Tugas 1
(Tentang Perdukunan di Indonesia)
Dukun adalah orang yang mengabarkan
perkara- perkara ghaib di masa yang akan datang. Bisa dikatakan pula bahwa
dukun ialah orang yang mengabarkan sesuatu yang ada di hati manusia. Demikian
pula, dapat dikatakan bahwa dukun yaitu orang yang mengaku mengetahui
perkara-perkara tertentu melalui pengantar-pengantar tertentu pula untuk
mengetahui barang yang dicuri dan keberadaannya. Adapun arti perdukunan yaitu penyampaian
berita tentang perkara- perkara yang telah disebutkan di atas.
Al Imam al- Khaththabi rahimahullah
menerangkan bahwa para dukun adalah manusia yang memiliki pola pikir
menyimpang, jiwa yang buruk dan tabiat kemarahan. Syaithan menyenangi mereka
karena adanya kesamaan dalam sifat-sifat tadi dan keinginan membantu mereka
dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Dahulu masa jahiliah, perdukunan
menyebar luas terkhusus di kalangan Arab karena terputusnya kenabian di tengah
mereka. Sedangkan perdukunan itu ada beberapa golongan :
1. Perdukunan
yang didapatkan dari jin pencuri berita yang ada di langit.
2. Perdukunan
yang didapatkan dari jin tentang peristiwa di seluruh permukaan bumi.
3. Perdukunan
yang disandarkan pada dugaan, perkiraan dan sangkaan yang memang sebagian orang
memiliki kekuatan untuk itu. Hanya saja tetap dibumbui banyak kedustaan.
4. Perdukunan
yang disandarkan pada pengalaman dan kebiasaan. Kemudian sebuah peristiwa
dicocokkan dengan peristiwa-peristiwa lain sebelum itu. Tidak jarang dibumbui pula
dengan hal-hal yang berbau mistik.
Asy-Syaikh Shalih bin Abdil Aziz Aalu asy-Syaikh
hafizhallah menerangkan bahwa pencurian pendengaran dari langit oleh jin itu
ada 3 keadaan:
1. Sebelum
diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, pencurian pendengaran
dari langit itu jumlahnya banyak sekali.
2. Setelah
diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, tidak ada pencurian dari
langit oleh jin. Kalaupun ada, maka hal itu jarang sekali. Itu pun tidak
mempengaruhi wahyu Allah terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam.
3. Setelah
wafatnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, pencurian pendengaran dari
langit kembali muncul tapi tidak sebanyak sebelum diutusnya Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi Wasallam. [Lihat at-Tamhid li Syarhi Kitabit Tauhid].




